Sutra
Sanghata adalah catatan langsung dari ajaran yang diutarakan oleh
Buddha Shakyamuni di Gunung Griddhakuta di Rajagriha. Sutra yang
dibabarkan oleh Buddha ini, seperti semua sutra Mahayana, telah
dihafalkan oleh murid-murid beliau dan kemudian ditulis dalam bahasa
Sanskerta. Namun, Sutra Sanghata adalah unik karena merupakan ajaran
yang Buddha sendiri telah dengar dari Buddha sebelumnya, dan juga unik
dalam hal cakupan efek-efek bagi mereka yang melafalnya. Sutra
Sanghata adalah salah satu dari kelompok sutra-sutra khusus yang
disebut dharma-paryaya, atau ‘ajaran-ajaran transformatif’ yang
berfungsi untuk mentransformasi mereka yang mendengar atau melafalnya
dalam cara-cara tertentu. Salah satu manfaat yang paling kuat adalah
bahwa pada saat kematian, siapapun yang telah melafalkan Sutra Sanghata
akan melihat para Buddha datang untuk menenangkan mereka selama proses
kematian. Manfaat lebih lanjut adalah, di manapun Sutra Sanghata
berada, para Buddha selalu hadir, seperti dijelaskan dalam sutra itu
sendiri. Dengan demikian, pelafalan sutra ini dapat memberikan
inspirasi yang sangat kuat di tempat manapun sutra ini dilafalkan.
Secara
umum, pelafalan sutra-sutra Mahayana adalah salah satu dari praktik
enam kebajikan yang khususnya dianjurkan untuk purifikasi, dan
pelafalan sutra ini khususnya mempunyai efek karma yang sangat luas,
yang bertahan selama banyak kehidupan, seperti dijelaskan Sutra
Sanghata itu sendiri secara mendetail. Dalam sutra ini, Buddha
menjabarkan banyak penjelasan tentang bagaimana sutra ini berfungsi
untuk mempurifikasi benih-benih penderitaan bagi mereka yang
melafalnya, dan memastikan mereka mendapatkan kebahagiaan di masa depan
hingga tercapainya penggugahan. Sutra ini juga mencakup beberapa ajaran
mengenai kematian dan anitya, termasuk ajaran mengenai proses-proses
fisik dan mental yang terjadi pada saat kematian.
Selama
berabad-abad, Sutra Sanghata merupakan salah satu sutra Mahayana yang
paling banyak dibaca dan dicetak. Pada tahun 1930-an, penggalian
arkeologis telah dilakukan di Pakistan Utara di bawah pemerintahan
koloni Inggris, dan ditemukan sebuah perpustakan teks Buddhis.
Pengalian arkeologis ini sangatlah penting bagi para ahli sejarah,
karena ditemukan banyak manuskrip tersembunyi yang ditulis pada abad
ke-5 Sesudah Masehi, suatu periode yang jauh lebih awal dibandingkan
penemuan lainnya di India. Di antara banyak manuskrip penting ini, teks
yang ditemukan dengan jumlah cetakan terbanyak adalah Sutra Sanghata,
bahkan lebih banyak dari Sutra Teratai, Sutra Pembelah Vajra atau
Sutra-sutra Prajnaparamita yang lebih kita kenal sekarang ini. Meskipun
Sutra Sanghata telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dalam tradisi
Buddhis Mahayana awal, termasuk bahasa China, bahasa Khotan dan bahasa
Tibet, tetapi hingga pengalian tahun 1930-an tersebut, versi bahasa
Sanskerta yang asli telah hilang.
Akhir-akhir ini, setelah
menemukan Sutra Sanghata untuk pertama kalinya ketika tinggal di vihara
Geshe Sopa di Madison tahun lalu, Lama Zopa Rinpoche memutuskan untuk
menulis sutra ini dengan tangan, dengan tinta emas, dan meminta
murid-murid beliau untuk melafalkan sutra ini dalam banyak kesempatan.
Pada peringatan 11 September, Rinpoche meminta semua murid beliau di
seluruh dunia untuk melafalkan sutra ini sebanyak mungkin guna mencegah
serangan lebih lanjut. Sambil membaca sutra transformatif yang
begitu berdaya kuat, yang diajarkan oleh Buddha Shakyamuni agar marga
menuju penggugahan dapat dikembangkan semudah mungkin, dengan jelas
kita dapat merasakan bahwa Buddha sungguh luar biasa baik hati kepada
kita. Di saat yang sama, karena sutra ini mengandung kata-kata yang
sesungguhnya diucapkan oleh Buddha, dengan mengulangi sendiri ucapan
tersebut selama pelafalan, kita berperan sebagai penerus untuk
melestarikan ajaran-ajaran beliau di dunia. Karena itu, dengan melafal
Sutra Sanghata, di samping semua manfaat yang kita sendiri akan terima,
kita juga bertindak dengan cara yang sangat langsung dan berdaya kuat
untuk melestarikan ajaran-ajaran Buddha, yang begitu mendesak
dibutuhkan untuk menghilangkan penderitaan-penderitaan semua makhluk.